gomuslim.co.id – Dalam sejarah Islam, Belalang turut menjadi bagian penting, yakni sebagai peringatan bagi orang-orang yang mengingkari Allah.  Dalam kisah Nabi Musa AS ketika melawan Firaun.

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (Q.S Al-Araaf Ayat: 133)

 

 

Kisah Belalang, Binatang yang Allah Jadikan Peringatan

Ayat tersebut menceritakan kisah Nabi Musa saat berada di Mesir untuk membebaskan kaumnya, Bani Israil, dari siksaan Firaun. Sebagai bukti kebenarannya, Allah mengirimkan kepada mereka topan, katak, kutu, dan belalang dalam jumlah banyak.

Allah menurunkan kemarau panjang di Mesir, sehingga mereka meminta Musa berdoa pada Allah. Jika Allah telah menghilangkan kemarau ini, kami akan beriman. Allah menghilangkan kemarau, namun mereka tidak mau beriman. Allah mengirim belalang yang memakan tanaman dan buah milik mereka, namun mereka tetap tidak mau beriman. Lalu Allah mengirim kutu, katak, dan darah semuanya menguasai mereka.

 

 

Kutu membunuh mereka dan anak mereka, merusak tanaman dan makanan mereka. Sedangkan katak menyerang mereka di dalam rumah mereka. Ketika orang-orang Mesir ingin minum dari sungai Nil, airnya berubah menjadi darah.

Namun, jika Bani Israil ingin meminumnya, darah itu kembali menjadi air seperti semula. Firaun selalu berjanji pada Musaakan beriman dan membebaskan Bani Israil dari kejahatannya, jika ia mau berdoa pada Tuhannya. Ini merupakan penangguhan yang diberikan Allah pada Firaun, agar ia menjadi muslim atau membiarkan Musa dan Bani Israil meninggalkan Mesir.

Kisah ini menunjukkan betapa taatnya makhluk pada Allah. Kekuatan manusia lemah dan terbatas, sedangkan kekuatan Allah tidak ada batasnya. Bahwa Orang zalim pasti kalah, walaupun kezalimannya berlangsung lama serta sabar terhadap kepahitan di jalan Allah.

 

Halalnya Bangkai Belalang

Para ulama menjelaskan, boleh memakan belalang walau sudah menjadi bangkai. Binatang ini halal sebagaimana terdapat dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad 2:97 dan Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

 

Belalang jika mati dengan sendirinya, sudahlah halal sehingga tidak butuh pada penyembelihan khusus karena bangkainya saja suci.

Imam Nawawi berkata, “Ikan dan belalang itu halal dimakan walau tidak lewat proses penyembelihan.” Lalu beliau rahimahullah berkata, “Dan tidak mungkin berdasarkan kebiasaan untuk menyembelih ikan dan belalang, maka penyembelihan keduanya tidak diperlukan.” (Al Majmu’, 9: 72)

 

Kandungan Gizi Belalang

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, dikatakan bahwa Rasulullah dan pasukan memakan belalang sebagai asupan tenaga.

“Kami Berperang bersama Rasulullah SAW dalam tujuh peperangan dengan mengonsumsi belalang.” (HR. Muslim)

 

 

Sementara itu, Pakar ilmu gizi dari Department of Community Nutrition, Facultas Ekologi dan Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Ahmad Sulaiman juga menyebutkan belalang merupakan hewan yang memiliki beragam jenis kandungan nutrisi penting seperti, protein, vitamin, asam lemak esensial dan mineral.

Belalang yang masih segar, kandungan proteinnya sekitar 20 persen, tetapi pada yang kering sekitar 40 persen. Belum kulitnya yang juga mengandung zat kitosan seperti udang. Tetapi tergantung jenis belalangnya, pada musim-musim tertentu ada jenis belang yang kandungan vitaminnya lebih tinggi.  Belalang juga dapat  memenuhi 25 hingga 30 persen kebutuhan vitamin A.

 

 

Selain kadar proteinnya tinggi, dalam belalang terkandung beragam jenis mineral seperti kalsium, magnesium, potassium, sodium, fosfor, zat besi, zinc, mangan dan tembaga. Sedangkan, kandungan vitaminnya beragam mulai dari vitamin A, B, B1, B2, B6, E dan C, asam folat hingga berbagai jenis asam lemak.

Belalang saat ini masih dijadikan sumber pangan alternatif, terutama pada masyarakat di sejumlah daerah yang mengalami kesulitan sumber makanan. Bahkan di beberapa negara, belalang sebenarnya sudah dijadikan makanan pokok. (nov)

Wallahu A’lam Bishawab

 

Sumber:

Dr. Hamid Ahmad Al-Thahir, Kisah Burung dan Hewan dalam Alquran, Kairo: Dâr Al-Ghad Al-Jadîd, 2006

Kathir, ibn, Imam Imaduddin Abul Fida Islail, Stories of The Prophets, Darussalam, Riyadh Saudi Arabia, hal 119.

Ustadz Ali Zainal Abidin, Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur, islam.nu.or.id

PKM GT, Pemanfaatan Belalang dan Jangkrik yang Ekonomis dan Eco-Friendly Untuk Mencukupi Kebutuhan Protein Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, 2014