gomuslim.co.id – Setelah pengesanan Undang-undang Pesantren, kini lulusan pesantren mendapat pengakuan negara. Kehadiran UU Pesantren memberikan ruang pengakuan bagi santri setelah menamatkan studinya.

Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI, Erfandi mengungkapkan perhatian negara selama ini kepada eksistensi pesantren masih sangat minim. Dia mencontohkan yang terdapat di UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di sana kata ‘pesantren’ hanya satu kali disebut.

“Pengesahan UU Pesantren merupakan jihad konstitusi yang dilakukan anggota DPR di parlemen. UU ini juga membuat syahadah atau ijazah pesantren yang sebelumnya sering tidak diakui, kini harus diakui pemerintah. Pos pembiayaan dari pemerintah untuk pesantren pun akan bertambah,” kata Erfandi pada Kamis, (18/10/2019).

Ia menyebut, selama ini ijazah pesantren kerap tidak diakui karena bukan lulusan sekolah umum. Katanya, dengan adanya UU pesantren, maka legitimasi dan eksistensi serta produk pesantren semakin diakui negara.

 

Baca juga:

16 Pesantren di Soloraya Siap Tanding di Liga Santri Nusantara 2019

 

Untuk diketahui, pada Rabu, (16/10/2019), para santri se-Jabodetabek mendapat sosialisasi soal UU Pesantren dari Fraksi PPP DPR dan Yayasan Wakaf Qur’an Indonesia. Sosialisasi itu juga dihadiri oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Jabodetabek.

Sementara itu, Ketua Umum PP IPNU Aswandi Jailani menyebut implementasi UU Pesantren ini perlu diawasi agar dapat berjalan sesuai dengan keinginan yang tertuang UU tersebut.

“Kami meminta pengurus IPNU seluruh Indonesia untuk mengawal terbitnya Peraturan Menteri yang menindaklanjuti disahkannya UU Pesantren,” kelas Aswandi.

Kemudian, Anggota Dewan DPR, Achmad Baidowi menyebut,inisiasi Rancangan Undang-undang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren sudah di canangkan sejak 2013 lalu, akan tetapi tidak mendapatkan respon cepat. Kemudian satu tahun berselang, beberapa fraksi bernafaskan Islam ikut turut  mengusung RUU tersebut.

“Pada akhirnya RUU berubah menjadi RUU Pesantren,” tutup Baidowi. (hmz/jawapos)

 

 

 

Baca juga:

Dinas Koperasi Jabar Gelar Pelatihan Magang OPOP bersama 67 Pesantren di Kuningan