gomuslim.co.id – Terjemahan Alquran edisi penyempurnaan versi Kementerian Agama (Kemenag) resmi diluncurkan di Aula Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, TMII, Jakarta, Senin, (14/10/2019). Peluncuran dilakukan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Bersamaan dengan itu, Mushaf Alquran standar Indonesia Rasm Usmani, jabatan fungsional pentashih mushaf Alquran dan pangkalan data Mushaf Alquran Nusantara juga dirilis. Dalam sambutannya, Menag menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada tim yang tergabung dalam revisi penterjemahan Alquran.

Menag menyebut, proses penterjemahan ini berjalan lebih dari tiga setengah tahun. “Alhamdulillah pekerjaan itu hari ini sudah bisa dituntaskan. Ini bagian kinerja Kementerian Agama, agar terjemah mengikuti konteks zamannya,” ujarnya.

Edisi Penyempurnaan Terjemah Alquran terbitan Kemenag ini diinisiasi oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Balitbang-Diklat Kemenag. Proses ini merupakan kali ketiga. Penerjemahan Alquran kali pertama oleh Kementerian Agama dilakukan pada tahun 1945.

Saat itu yang menjadi Menteri Agama adalah Prof KH Saifuddin Zuhri. Agar terjemahan Alquran senantiasa relevan dengan perkembangan zaman, pada tahun 1989-2002 dilakukan penyempurnaan lagi. Sehingga, kali ini melakukan revisi yang ketiga.

“Ini adalah edisi penyempurnaan, maksudnya proses yang tidak berkesudahan. Kita menggunakan kata penyempurnaan, karena terjemahan tidak akan sempurna dan terus mengalami perubahan, sesuai lingkungan strategis yang selalu berubah. Pastilah terjemahan itu dinamis, bahasa berubah, cara pandang juga berubah sesuai situasi kondisi yang kita alami,” jelasnya.

Kepala Badan dan Diklat Kemenag Abd Rahman Mas’ud menyebutkan bahwa revisi dan penyempurnaan terjemahan Alquran dilaksanakan sejak 2016-2019. Prosesnya melibatkan para pakar Alquran, tafsir, bahasa arab, dan bahasa Indonesia. “Penyempurnaan dilakukan secara menyeluruh, meliputi aspek bahasa dan pilihan kata, konsistensi dan substansi,” ungkapnya.

Abd Rahman menambahkan, dalam edisi penyempurnaan ini dilengkapi dengan sub judul, terjemahan nama surah dan mukadimah yang memuat sistematika dan metode penerjemahan. “Secara substansi, terjemahan Alquran Kementerian Agama edisi penyempurnaan ini bersifat moderat serta ramah gender dan difabel,” katanya.

 

Baca juga:

Kunjungi Duta Besar RI di Tiongkok, PCINU Canangkan Cetak Alquran Terjemahan Indonesia-Tiongkok

 

Diketuai oleh Kepala LPMq Muchlis M Hanafi, Tim Pengkajian dan Penyempurnaan Terjemahan Alquran Kemenag beranggotakan 14 orang pakar dalam bidang Ulum Alquran, Tafsir, Bahasa Arab, Peneliti Terjemahan Alquran dalam berbagai bahasa dan pakar Bahasa Indonesia.

Mereka bertugas selama 3,5 tahun sejak 2016 hingga pertengahan 2019. Setiap bulan, dilakukan sidang untuk mengkaji, menelaah ulang, mendiskusikan, dan merumuskan setiap makna kata dari Alquran sehingga hadir Terjemahan Edisi Penyempurnaan tahun 2019.

Berikut ini 15 pakar yang tergabung dalam Tim Pengkajian dan Penyempurnaan Terjemahan Alquran Kementerian Agama:

1. Dr. Muchlis Muhammad Hanafi, MA (Ketua)

2. Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA (Anggota)

3. Prof. Dr. Muhammad Chirzin, MA (Anggota)

4. Prof. Dr. Rosihan Anwar, MA (Anggota)

5. Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA (Anggota)

6. Dr. Abdul Ghafur Maimun, MA (Anggota)

7. Dr. KH. Malik Madani, MA (Anggota)

8. Dr. Abbas Mansur, MA (Anggota)

9. Dr. H Amir Faishol, MA (Anggota)

10. Dr. H. Abbas Mansur Tamam, MA (Anggota)

11. Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA (Anggota)

12. Dr. Dora Amalia (Anggota)

13. Drs. H Abdul  Gaffar Ruskhan, M.Hum (Anggota)

14. Drs. Sriyanto, M.Hum (Anggota)

15. Drs. Amran Purba, M.Hum (Anggota)

(jms/kemenag)

 

 

Baca juga:

Setelah Bahasa Melayu Ambon dan Bali, Kini Hadir Terjemahan Alquran dengan Bahasa Madura