gomuslim.co.id – Katak adalah hewan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al A’raaf ayat 133. Dalam ayat ini, Allah menceritakan azab yang diturunkan kepada Fir’aun dan pengikutnya yang kafir. Allah mengirimkan ribuan katak untuk mengazab mereka.

“Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa,” (Q.S Al-Araaf Ayat: 133)

 

 

Kisah Katak, Binatang yang Allah Jadikan Peringatan

Sebagaimana yang dikisahkan oleh Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA, Negeri yang dipimpin Firaun dilanda kekeringan. Rakyatnya kelaparan dan jatuh miskin. Namun, Firaun tetap saja sombong. “Akulah tuan kalian, aku menyediakan semua kebutuhan kalian. Lihatlah (Nabi) Musa, ia tak memiliki emas. Ia hanyalah orang miskin,” kata Firaun dalam satu pertemuan dengan rakyatnya termasuk bani Israil.

Bani Israil pun sekejap langsung percaya dengan kata-kata Firaun. Lupa sudah bahwa raja mereka itu telah menindas, bahkan membunuh anak-anak mereka. Namun, mereka teperdaya dengan kilauan emas dan perak. Mereka sudah lupa bahwa Nabi Musa yang selalu menyeru hak mereka untuk lepas dari belenggu sebagai budak Firaun.

Mereka dengan mudahnya tergiur janji Firaun yang akan memenuhi segala kebutuhan hidup mereka, meski janji itu palsu belaka. Dalam keteperdayaan dan kebodohan itu, Bani Israil serta-merta menaati Firaun dan mengabaikan panggilan Musa. Mereka tergiur godaan dunia. Musa dicela, tak dianggap sebagai utusan Allah.

Maka, keesokan hari setelah pertemuan itu, tanah Mesir heboh. Air di Sungai Nil tiba-tiba habis begitu saja. Nil terus kering hingga tanah pertanian gagal panen, rakyat kelaparan, Mesir dirundung panceklik.

Namun, bukan bertaubat agar terbebas dari azab Allah ini, Firaun dan pengikutnya tetap sombong dan berbangga diri. Mereka malah menuding Musa sebagai pembawa sial bagi negeri Mesir.

Maka, Allah pun melanjutkan azab-Nya. Jika sebelumnya kekeringan, Allah kemudian menimpakan banjir besar kepada rakyat Mesir. Lahan subur habis terkikis. Ketika mereka tak tahan lagi dengan banjir, mereka pun mendatangi Musa.

“Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu,” ujar para pengikut Firaun.

Musa pun kemudian memanjatkan doa dan segera terijabah. Azab banjir pun reda seketika. Namun begitu azab sirna, mereka ingkar janji. Mereka pun tetap tak beriman kepada kenabian Musa. Allah pun kembali menurunkan azab.

Allah mengirimkan sekawanan belalang yang kemudian memakan habis tanaman. Warga Mesir kembali kelaparan. Lalu, mereka pun kembali kepada Musa dan meminta hal sama.

Azab belalang pun usai. Namun, lagi-lagi, mereka kembali ingkar. Allah memberikan azab kembali dengan mengirim sekawanan kutu. Tiba-tiba wabah penyakit akibat kutu itu pun melanda tanah Cleopatra.

Saat merasa sulit, mereka pun kembali kepada Musa dan meminta hal yang sama. Musa dengan sabar mengabulkan dengan harapan mereka akan sadar.

Namun, mereka kembali ingkar. Allah pun tak segan mengirimkan kembali azab. Kali ini, dikirimkan sekelompok katak. Tiba-tiba Mesir dipenuhi sesak oleh katak yang terus melompat-lompat, banyak sekali jumlahnya.

 

 

Rakyat Mesir hidup dipenuhi katak-katak itu. Tertekan, mereka kembali lagi kepada Musa, dengan permintaan yang sama. Namun, ini hanyalah mengulang seperti sebelumnya. Azab dihilangkan, mereka kembali ingkar, demkian seterusnya.

Maka, Allah pun kembali mengirim azab-Nya. Allah Ta’ala mengubah air Nil menjadi darah dengan bau anyir yang menyengat. Ajaibnya, ketika Musa dan pengikutnya meminum air itu, maka bagi mereka itu bukanlah darah, melainkan air biasa. Jika rakyat Mesir pengingkar kenabian Musa ingin meminumnya, tiba-tiba air berubah menjadi darah.

Seperti sebelum-sebelumnya, mereka pun mendatangi Musa dan mengatakan hal sama. Namun, setelah Musa memanjatkan doa dan azab telah diangkat, mereka pun kembali pada keingkaran. Bertubi-tubi Allah menimpakan azab.

Tentu saja, bagi orang yang berakal, itu lebih dari cukup untuk menunjukkan kenabian Musa dan keesaan Allah. Namun, warga Mesir telah buta hati. Mereka telah tersesat.

 

Fakta Gizi dan Bahaya Katak

Masyarakat Thionghoa mengunakan katak sebagai makanan smber pangan yang digemari dan mereka menyakini bahwa katak merupakan makanan yang bergizi dan lezat.

Berikut adalah kandungan gizi katak:

Energi 75 kkal, Protein 17,4 gr, Lemak 0,2 gr, Karbondirat 0 gr, Kalsium 17 mg,  Fosfor 148 mg, Zat besi 2 mg, Vitamin A 0 IU, Vitamin B1 0,15 mg, Vitamin C 0 mg.

 

 

Dari keterangan tersebut, katak dipercaya dapat menyembuhkan berberapa penyakit diantaranya, menyembuhkan impotensi pada pria, mengatasi kerusakan jantung, sumber protein hewani, mencegah asma, antibiotik, menyembuhkan cidera dengan cepat, bronkitis, dan mengatasi kanker. Manfaat katak yang besar bagi kesehatan membuat katak merupakan bahan pangan yang semakin digemari, terutama pada negara-negara di Eropa dan Amerika, mengakibatkan permintaan dunia akan katak semakin meningkat.

Namun, secara mengejutkan Peneliti asal IPB menjelaskan bahwa katak mengandung cacing nematode yang ada pada sistem pencernaan katak. Apabila cacing tersebut masuk kedalam sistem pencernaan manusia maka akan menggangu metabolisme pada tubuh, selain itu akan lebih bahaya lagi ketika cacing tersebut masuk kedalam pencernaan manusia dan memakan hasil yang manusia makan, maka akibatnya akan merasa lapar walaupun sudah makan.

 

 

Katak memang mempunyai unsur gizi yang sangat banyak akan tetapi gizi tersebut sudah ditelan habis oleh cacing tersebut. Dalam diri katak banyak terdapat cacing nematoda, dan yang lebih bahaya lagi cacing tersebut tidak akan mati walaupun dimasak dalam suhu apapun. Apabila cacing dalam katak tersebut masuk kedalam tubuh manusia maka yang akan diserang terlebih dahulu ialah ginjal, karena cacing yag ada dalam katak akan menimbulkan biomagnifield yang merusak cara kerja ginjal.

 

Hukum Memakan Katak

Terkait kehalalan dalam mengkonsumsi katak atau kodok, memang  dan ada perbedaan pendapat. Majelis Ulama Indonesia secara khusus pernah melakukan pengkajian. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am mengatakan binatang yang hidup di dua alam haram dikonsumsi, sekalipun binatang itu suci dan bisa dikembangbiakkan.

“Para ulama beda pendapat. Tapi jumhur (mayoritas ulama) menyatakan itu terlarang. Tapi MUI juga mengakui ada mazhab yang menyatakan daging katak atau kodok bisa dikonsumsi,” kata Ni’am.

 

 

Ni’am mengatakan MUI mengimbau agar daging katak sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi mengingat adanya perbedaan pandangan para ulama.

“Fatwanya sudah ada. Mengimbau untuk memilih makanan konsumsi yang aman secara kesehatan dan keluar dari perbedaan pandangan fuqoha (ahli fikih). Kalau bisa dihindari, ya dihindari. Begitu, ya. Karena terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama,” kata Ni’am.

Dari pernyataan yang dinyatakan bahwa memang haramnya memakan katak untuk menjaga kesehatan manusia. Walaupun pada diri katak mempunyai banyak gizi yang baik, namun gizi tersebut sudah dihabiskan oleh Nematoda yang ada dalam pencernaan katak, dan yang dimakan hanya racun yang bahaya.

 

Larangan Membunuh Katak

“Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Alasan nabi melarang membunuh katak karena katak merupakan hewan yang mencintai terhadap Nabi Ibrahim, katak berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim dengan sekuat tenaga, akan tetapi perbuatan tersebut sia-sia. Api yang membakar Nabi Ibrahim tidak padam meskipun katak sudah sekuat tenaga memadamkannya. Allah memberi penghargaan terhadap perbuatan katak, sehingga Allah melarang kepada seluruh Nabi-Nya untuk membunuh katak.

 

 

Pada zaman yang banyak ditemukan penemuan dan berkembangnya ilmu Sains, membuat umat Islam ingin mengkaji sumber ajaran islam melalui berbagai disiplin ilmu, upaya ini dimaksudkan agar Islam tetap eksis ditengah pesatnya perkembangan sains dan teknologi modern.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap hadis tentang larangan membunuh katak perlu digunakan pendekatan Sains dalam memahami hadis tersebut. Ilmu sains yang digunakan untuk memahami hadis tentang larangan membunuh katak yaitu digunakan ilmu Biologi dengan teori anatomi dan teori ekosistem.

Teori anatomi merupakan cabang ilmu biologi yang digunakan untuk mengetahui struktur tubuh manusia, hewan dan tumbuhan untuk mengetahui hubungan dari bagian-bagian tesebut. Ilmu Anatomi berguna untuk meneliti organ-organ dalam katak.

Teori ekosistem merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang proses yang terbentuk karena adanya hubungan timbal balik antara makluk hidup dengan lingkungan. Teori ini digunakan penulis utuk menjelaskan kegunaan katak dalam alam semesta.

Dalam ilmu ekosistem katak digolongkan sebagai ekosistem sawah, karena katak lebih banyak ditemukan disawah, dan akan lebih mudah apabila dijelaskan dengan mengunakan ekosistem sawah. Dalam ilmu ekosistem terdapat berbagai sub bab antara lain ialah rantai makanan, Katak dalam rantai makan berperan sebagai konsumen tingkat II yang berfungsi untuk memangsa konsumen I.

 

 

Berikut adalah gambaran ekosistem sawah:

Dari rantai makanantersebut dapat diketahui katak merupakan konsumen kedua yang bertugas untuk memangsa serangga yang memakan padi. Apabila disambungkan dengan hadis larangan membunuh katak dan keseimbangan alam semesta (kosmos) maka memang katak tidak boleh dibunuh, karena apabila dibunuh akan merugikan petani yang menanam padi, serangga akan menyebar secara pesat karena serangga bisa secara maksimal mengkonsumsi padi tanpa ada yang memangsa dan ular akan menjadi kelaparan dan menganggu petani.

Hal ini menunjukan bahwa katak merupakan unsur penting dalam rantai makanan yang terdapat pada ekosistem sawah. Fenomena alam yang mendukung pentingnya katak dalam ekosistem dan alam semesta adalah ketika adanya azab yang diberikan Allah kepada Firaun di mesir.

Selain menjaga ekosistem katak juga bermanfaat bagi kosmos. Katak bagi alam semesta juga berfungsi sebagai indikator kesuburan tanah. Katak merupakan indikator biologis kerusakan lingkungan. Tidak adanya katak di sebuah ekosistem baik perairan maupun darat menjadi indikator sederhana kerusakan lingkungan yang bisa disebabkan oleh pemanasan global.

Wallahu a’lam bishawab 

 

 

Sumber:

Kathir, ibn, Imam Imaduddin Abul Fida Islail, Stories of The Prophets, Darussalam, Riyadh Saudi Arabia, hal 119

Ats Tsaqofi, M Harir, Manfaat Katak Dalam Sistem Kosmos, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, 2018

Suara muhammadiyah

https://mui.or.id/