gomuslim.co.id – Pertemuan Pakar Falak Majelis Agama Islam Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (Mabims) 2019 diharapkan dapat memunculkan konsensus penanggalan Islam atau Hijriah. Hal tersebut agar penanggalan Hijriah selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, meminta pertemuan bertajuk ‘Perkembangan Visibilitas Hilal dalam Perspektif Sains dan Fikih’ ini menghasilkan kesepakatan kesamaan cara pandang (ahli ilmu falak) sehingga bisa terbangun konsensus yang hasilnya demi kemaslahatan bersama.

“Para pakar ilmu falak (ilmu perbintangan) perlu segera menyamakan persepsi untuk merespons berkembangnya teknologi untuk membantu menentukan posisi hilal,” ujarnya di Yogyakarta, Rabu (09/10/2019).

Jika dahulu hilal dilihat dengan mata telanjang tanpa alat, menurut dia, saat ini banyak bermunculan alat yang dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan melihat hilal. “Sehingga hilal yang oleh mata telanjang tidak bisa dilihat tapi dengan bantuan alat menjadi bisa terlihat,” ungkapnya.

Menurut Menag, berkembangnya teknologi akan mempengaruhi mekanisme penanggalan yang berkaitan dengan peribadatan umat Islam seperti penentuan awal Bulan Ramadhan serta Dzulhijjah.

“Kita tahu banyak sekali alat-alat yang diciptakan dalam membantu para ahli untuk menentukan tanggal. Seiring perkembangan alat-alat itu bagaimana hukum fikih merespons,” tuturnya.

 

Baca juga:

Pembukaan Pertemuan Pakar Falak MABIMS Tampilkan Gema Shalawat Angklung

 

Sementara itu, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menjelaskan bahwa Pertemuan Pakar Falak Majelis Agama Islam Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (Mabims) itu memiliki dua dimensi yakni dimensi syariah dan dimensi astronomi.

“Dimensi syariah menunjuk pada suatu ibadah, yang merujuk pada Al-Quran, hadits dan ijtihad ulama. Sementara dimensi astronomi merujuk pada ilmu pengetahuan astronomi itu sendiri,” katanya.

Amin juga menyebut perbincangan terkait hisab dan rukyat di negara-negara Muslim merupakan persoalan penting yang menjadi kebutuhan publik. Persoalan yang masuk dalam ranah fikih ini sudah diawali sejak era awal perkembangan Islam.

“Sejatinya, hal ini sudah mendapat perhatian yang serius dari pakar hukum Islam, terutama kaitannya dengan berbagai pelaksanaan ibadah seperti arah kiblat, waktu shalat, awal bulan, waktu gerhana bulan dan matahari,”

Para peserta yang berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura terdiri atas akademisi dan pakar ilmu falak yang berasal dari ormas Islam, BMKG, LAPAN, Bosscha ITB dan planetarium Jakarta serta Asosiasi Dosen Falak UIN. (jms/antara/dbs)

 

 

Baca juga:

Delegasi Empat Negara Sepakat Tunjuk Indonesia Jadi Tuan Rumah SOM MABIMS 2020