gomuslim.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan, menggelar pelatihan kader ulama. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Ketua LP2M UIN Alauddin Prof Muhammad Ramli mengatakan, kegiatan itu bertujuan menata keagamaan melalui kearifan lokal. Kegiatan ini merupakan program MUI. LP2M UIN diberi amanah untuk menjalan program itu.

Ia mengungkapkan, pelatihan ini dirangkaikan dengan seminar Nasional yang bertajuk “Kearifan Lokal Dalam Bingkai Tatanan Keberagaman”.

“Seminar menyangkut kearifan lokal dalam menata keagamaan Sulsel. Kebetulan diberi amanah kepada LP2M untuk menjalankan,” katanya pada ahad (6/10/2019).

Selain itu, ia mengungkapkan program itu dirangkaikan pembukaan pelatihan kader ulama yang diikuti seluruh Kabupaten se-Sulsel.

Lebih lanjut, Guru Besar Kebijakan Publik Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik itu menjelaskan kearifan lokal masyarakat Sulsel perlul untuk diaktualisasikan kembali. Menurutnya, permasalahan yang dihadapi Bangsa ini khususnya di Sulsel, nilai nilai luhur mulai tergeser.

 

Baca juga:

Hadirkan Cabang di Beberapa Negara, NU Warnai Islam Indonesia di Eropa

 

“Kearifan lokal menjadi bagian dari masyarakat Sulsel penting diaktualkan kembali. Ini tantangan yang dihadapi bangsa, utamanya di Sulawesi Selatan,” bebernya.

Ramli menuturkan, nilai-nilai leluhur Sulsel sudah mulai tergeser. Katanya, pelatihan kader ulama yang dihelat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel bekerja sama dengan LP2M UIN Alauddin.

Karena itu, MUI mengambil langkah mengangkat kembali kearifan lokal ini. Apalagi hal itu dinilai adalah bagian dari lokal genius masyarakat dulu. Sehingga nilai-nilai keagamaan kita bisa terapkan dengan pendekatan kearifan lokal.

Ia menambahkan, pengkaderan ulama tersebut diharapkan dalam menyampaikan dakwah memakai instrumen instrumen kearifan lokal, kemudian di sinergikan dengan agama sehingga sangat mudah sampai di masyarakat. Ia berharap agar masyarakat Sulsel tidak melupakan sejarah terkait ajaran lokal. Menurutnya, sejarah orang tua dulu masih sangat layak untuk diungkap kembali.

“Karena eksistensi daripada nasihat nasihat itu sangat cocok dan selaras dengan agama untuk kita terapkan kembali,” ujarnya.

Sebagai informasi, terdapat empat pembicara yang dihadirkan, yakni Ketua Pascasarjana UIN Alauddin Prof Ghalib, Dosen Universitas Hasanuddin Prof Pawenanring Hijjang, Dr Muhammad Yahya serta Ketua LP2M UIN Alauddin Prof Muhammad Ramli. (hmz/rilismui)

 

 

Baca juga:

MUI Ajak Pemerintah Sukabumi Cetak Kader Ulama dan Dai