Direktur PD Pontren Kemenag: Kepribadian Santri Terbentuk dari Pelajaran Kitab Kuning

gomuslim.co.id – Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Ahmad Zayadi mengatakan pelajaran kitab kuning memberikan dampak positif bagi para santri. Ia menyebut kitab kuning yang dipelajari di pesantren secara tidak langsung telah membentuk karakter dan budaya santri.

Menurutnya, kitab kuning di pondok pesantren tidak hanya menjadi referensi akademik para santri, tetapi juga telah membentuk kepribadian santri.

“Melalui tela’ah yang mereka lakukan itulah lalu para santri mempraktekan dalam perilaku sehati-hari. Dan itulah yang kemudian menjadi karakter,” ujarnya dalam Workhsohp Metodologi Qiroatil Kutub pada Pondok Pesantren di Bogor baru-baru ini.

Karena itu, tidak heran jika kitab kuning di pesantren lalu diposisikan sebagai sesuatu yang ‘sakral’. “Kitab kuning itu sesungguhnya bukan sekedar naskah akademik belaka, tapi sesuatu yang sakral karena ditulis oleh ulama yang memiliki tradisi akademik bagus, juga dengan riyadhah yang luar biasa,” jelasnya.

Zayadi menambahkan para santri yang sedang mempelajari kitab kuning di pondok pesantren juga melakukan banyak riyadhah, melakukan puasa, sholat malam, dan amalan lainnya. Zayadi bercerita, istilah kitab kuning pada awalnya diungkapkan oleh orang-orang luar pesantren untuk menstigma pesantren sebagai lembaga yang tertinggal karena menggunakan referensi yang kuno dan tertinggal.

 

Baca juga:

JIC Akan Gelar Bedah Buku Riset Majelis Taklim Kitab Kuning

 

“Pada awalnya, istilah kitab kuning itu sengaja disematkan untuk memposisikan pesantren sebagai lembaga yang tidak modern karena menggunakan referensi kuno. Harapannya tentu perspektif publik tentang pesantren menjadi negatif,” terangnya.

Alih-alih terdiskreditkan, pondok pesantren menurutnya berhasil membalikan stigma negatif itu. “Justru kitab kuning yang dijadikan referensi utama para santri dalam belajar mampu dielaborasi para santri menjadi khazanah yang sangat kaya ilmu pengetahuan, khas, dan unik,” tegasnya.

Zayadi meminta agar kitab kuning yang menjadi khazanah dan kekhasan pesantren ini harus dinomorsatukan. “Kita harus bangga, jika pendidikan umum mengembangkan konsep pembelajaran tuntas, atau mastery learning, maka itu sudah dilakukan di pesantren sejak ratusan tahun yang lalu. Santri belajar bukan berdasarkan diktat yang dirangkum dari banyak sumber, tapi belajar berdasarkan kitab kuning yang berjenjang,” tambahnya. (jms/kemenag)

 

 

Baca juga:

Berasal dari Tujuh Bidang Kajian, 126 Makalah Terpilih pada Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019