gomuslim.co.id – Kerajaan Arab Saudi menggelar simposium tentang pengajaran Alquran untuk orang-orang berkebutuhan khusus, Rabu (02/10/2019). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Urusan Islam, Panggilan dan Bimbingan Saudi, Yousef bin Mohammed bin Abdul Aziz bin Saeed.  

Para spesialis yang mengajar tunanetra akan mengambil bagian dalam forum ini. Bandar bin Fahd Al-Suwailem, Sekretaris Jenderal Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Alquran Suci di Madinah, mendesak peserta untuk mengembangkan metode dan gagasan baru dalam melayani mereka yang berkebutuhan khusus.

Saad bin Mohammed Abdul Ghaffar Yusuf, asisten profesor di Universitas New Valley Mesir, mengatakan kepada forum bahwa Alquran mendorong pengajaran Islam kepada yang lemah dan yang cacat.

“Simposium ini mencerminkan kepedulian dan perhatian yang diberikan Kerajaan dan kepemimpinannya yang bijaksana kepada orang-orang dengan kebutuhan khusus, terutama yang tunanetra,” ujarnya seperti dilansir dari publikasi Arab News, Kamis, (03/10/2019).

Yusuf mengatakan bahwa simposium akan membantu memenuhi tantangan yang dihadapi oleh para penyandang disabilitas yang memungkinkan mereka untuk menjadi mitra dalam membangun komunitas.

Bin Saeed meluncurkan beberapa proyek Alquran termasuk versi Braille lima volume dan terjemahan dalam bahasa Jepang.

Sebelumnya, Meshal al-Harasani menciptakan mushaf digital bagi tunanetra guna memfasilitasi pembacaan Alquran.   Penemu berusia 30 tahun itu merupakan seorang penasihat di Universitas King Abdul Aziz.

Dia telah bertanggung jawab atas lebih dari 50 penemuan di berbagai bidang kemanusiaan dan sosial. Kini, mushaf digital yang ditemukannya merupakan ide yang terbaru dari serangkaian kreasi cerdas yang telah dibuatnya sejak dia berusia 13 tahun. 

 

Baca juga:

Pemerintah Kota Riyadh Gelar Pameran Kerja Terbesar untuk Wanita Saudi

 

Al-Harasani mengatakan, mushaf digital itu berupa papan elektronik dengan 28 karakter dan setiap karakter memiliki enam huruf braille. Sedangkan halaman papan berisi 28 baris.

“Tunanetra dapat membaca Alquran dengan mudah dan menavigasi halaman dengan mudah karena seluruh Alqur’an terdaftar di papan tulis,” katanya.

Dia menjelaskan, mushaf digital akan memudahkan proses membaca Alquran bagi tunanetra dibandingkan dengan versi normal Alquran dalam huruf braille.

Menurutnya, tunanetra biasanya membaca Alquran dalam huruf braille dalam enam volume besar. Sehingga, menyulitkan mereka dalam mencari halaman, bagian atau surat. Mereka juga dinilai kesulitan untuk membawa dan menyimpannya lantaran ukuran dari Alquran braille. 

Al-Harasani terinspirasi untuk membuat mus’haf digital ketika dia mengunjungi Kompleks Raja Fahd untuk Mencetak Alquran di Madinah. Saat itu, dia berpartisipasi dalam seminar pengajaran Alqur’an bagi mereka yang berkebutuhan khusus. 

“Saya meneliti tentang bacaan Alquran untuk mereka yang berkebutuhan khusus, terutama bagi tunanetra. Dan dari sana, muncul ide untuk membuat mus’haf digital bagi para tunanetra,” ujarnya.

Penemuannya masih dikembangkan dan diharapkan akan diluncurkan dalam satu tahun. Sejauh ini, dia mengatakan papan elektronik tersebut berisi 28 karakter dan 28 baris untuk menyerap jumlah karakter yang sama seperti halaman-halaman lembaran Alquran dalam huruf braille. (jms/arabnews/dbs)

  

 

Baca juga:

Pemerintah Saudi Bantu Pengungsi UNRWA Sebesar 50 Juta USD