gomuslim.co.id – Umat Islam perlu adaptif dengan adanya perubahan yang terjadi begitu cepat di era disrupsi ini. Perkembangan digital yang kian pesat menuntut para pegiat dakwah dan pendidikan Islam untuk lebih kreatif menghadirkan cara dan paradigma baru. Demikian salah satu simpulan dalam diskusi panel AICIS 2019 yang berlangsung pada 1-4 Oktober di Jakarta.

Ada lima strategi yang dapat dilakukan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk menghadapi era disrupsi yang diungkapkan oleh para panelis. Hal pertama disampaikan Rektor IAIN Kendari Faizah yang menyebutkan perlunya peningkatan spiritual imun bagi mahasiswa.

“Menghadari era disrupsi ini, perlu dibarengi dengan meningkatkan spiritual imun, yang dilakukan dengan memberikan motivasi kepada mahasiswa, melakukan komunikasi dan memberikan bimbingan konseling,” ujarnya.

Kedua, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Amany Lubis menawarkan strategi peningkatan etos belajar mahasiswa. “Menghadapi tantangan era disrupsi, mahasiswa perlu dimotivasi untuk meningkatkan kemauan belajarnya,” kata Amany.

Rektor IAIN Bukit Tinggi Ridha Ahida, menyampaikan hal ketiga dan keempat yang perlu dilakukan yaitu kemauan belajar ini juga perlu didukung oleh penguatan literasi digital. Kemudia, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki civitas akademica PTKIN perlu dibingkai dalam ketaatan pada kode etik.

“Seluruh civitas akademika, harus taat dengan peraturan tersebut. Baik mahasiswa, dosen, ataupun lainnya,” kata Ridha.

Kelima, Rektor IAIN Ponorogo S. Maryam Yusuf menyampaikan bahwa karakter baik menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari mahasiswa. Menurutnya, jika karakter baik tak membersamai manusia dalam kemajuan digital ini tentu dampak negatifnya membahayakan. “Kemajuan digital harus dibarengi pembentukan karakter baik,” kata Maryam.

Ia mencontohkan ada orang yang melakukan pencurian bank melalui digital dengan harta yang diambil berjumlah sangat banyak. Ini disebabkan meskipun memiliki kemampuan yang mumpuni, orang tersebut tidak memiliki karakter pribadi yang baik.

 

Baca juga:

AICIS 2019 Siap Hadirkan Sekitar 1.700 Sarjana Muslim Se-Dunia

 

Maryam menyatakan bahwa sufi atau tasawuf menjadi salah satu alternatif dalam menangkal karakter negatif sekaligus meningkatkan karakter positif mahasiswa di tengah arus globalisasi yang begitu derasnya mengalir di era digital ini.

Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan, Indonesia merupakan negara Muslim berpengaruh di dunia dan selalu menjadi kajian utama tentang keislaman dan kultural. Maka, Kemenag memprakarsai pertemuan sarjana Muslim sedunia agar studi Islam di Indonesia dapat lebih berperan dalam menjawab persoalan keislaman dunia.

Dia menjelaskan, setiap tahun dunia Islam mendapat tantangan baru yang harus selalu dijawab. Maka Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia harus menunjukkan kontribusi yang signifikan. Salah satunya melalui ajang AICIS yang diselenggarakan setiap tahun.

“Kami semua berkepentingan agar studi Islam selalu mengikuti perkembangan zaman dan tidak teralienasi dari dinamika sosial di masyarakat,” kata Kamaruddin.

Menurutnya, AICIS dapat dipergunakan untuk menyebarkan gagasan populisme dan kedamaian dunia melalui forum diskusi dan resolusi yang dihasilkan. “Para akademisi dan pakar keislaman memiliki posisi strategis dalam merumuskan bentuk respons yang positif terhadap berbagai dinamika yang ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare, Saefudin memberikan tanggapannya terkait isu yang berkembang, khususnya masalah gerakan digitalisasi. “Kita tidak bisa menghalagi siapa pun memanfaatkan media digital, termasuk kelompok ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Karenanya, kita harus berlomba dengan mereka untuk memperkaya konten-konten keagamaan di media digital, agar masyarakat dan umat Islam lebih tercerahkan,” ucapnya. (jms/rls)

 

Baca juga:

Konferensi Pendidikan Islam Internasional AICIS 2019 Akan Digelar di Jakarta