gomuslim.co.id – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa santri Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri. Ciri khas santri Indonesia ini diharapkan bisa dirumuskan secara sistematis dalam Muktamar Pemikiran Santri Nusantara (MPSN) 2019.

Menurut Menag, semua santri dikenal kemampuan penerimaan dan penghargaannya terhadap kebudayaan yang lebih dulu ada, nyaris tanpa konflik. Adapun ciri lainnya dari seorang santri adalah kecintaan terhadap Indonesia.

“Kecintaan atau nasionalisme kaum santri terhadap tanah air sangat luar biasa. Ini salah satunya tercermin dalam ungkapan hubbul wathan minal iman yang terus diajarkan kepada santri Indonesia. Kami harap, akan ada yang merumuskan hal-hal terkait kekhasan santri Indonesia yang dapat berkontribusi terhadap perdamaian dunia,” ujar Menag baru-baru ini.

Dalam sambutannya, Menag juga mengenang pengalamannya sebagai santri Pesantren Darussalam Gontor. Ia menyebut, santri itu punya rasa percaya diri yang luar biasa.

“Saat jatuh cinta, ia mengungkapkan lewat surat, tidak hanya ungkapan hati tetapi biasanya lewat syair yang puitis dan indah. Ketika ditolak, tidak pernah patah hati, karena yakin santriwati yang ditaksir itu tidak paham akan makna syair yang dituliskan,” cerita Menag diikuti tawa santri yang datang. 

Ketika menggambarkan sang kyai, Menag terbayang sosok yang  begitu ikhlas, dan keikhlasan itu menjadi ruh bagi semua. Menag lalu mengenang pesan Almaghfurlah Mbah Moen bahwa, pendidik tidak perlu mematok muridnya harus menjadi pintar, atau orang penting dan lainnya.

“Seorang pendidik, cukup mengajarkan ilmu yang  ingin diajarkan dan selalu mendoakan agar ilmu yang diajarkan kepada santri itu bermanfaat,” kenangnya.

 

Baca juga:

Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019 Resmi Dibuka

 

Menag juga menyelipkan pesan pentingnya menghargai keragaman. Dia mengajak untuk menyikapi perbedaan pendapat secara bijak; tidak perlu saling menghina dan menyalahkan. Sebab, segala sesuatu itu ada keutamaannya yang telah ditetapkan Allah.

“Terutama bagi generasi milenial, dalam bermedsos hendaknya selalu saling menjaga, saling memuliakan, saling menghormati, karena sejatinya itu juga dakwah. Dan, dakwah itu membahagiakan bukan membahayakan,” pesan Menag.

Untuk diketahui, MPSN sendiri merupakan bagian Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019. Kegiatan yang dimulai sejak tahun lalu ini digelar di pesantren, As-Shiddiqiyah Jakarta Barat selama tiga hari, 28 sampai 30 September 2019.

Sedikitnya ada 126 makalah tentang santri dan pesantren yang akan dipresentasikan dan diskusikan dalam MPSN II yang mengangkat tema “Tradisi, Eksistensi, dan Perdamaian Global” ini. (jms/kemenag)

 

 

Baca juga:

UU Pesantren Terbit, Kemenag Usul Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren