gomuslim.co.id – Hazza Al Mansouri, astronot asal Uni Emirat Arab (UEA) menerbitkan buku tuntunan waktu shalat di luar angkasa. Pembuatan buku ini terinspirasi ketika Al Mansouri kebingungan dalam menentukan waktu shalat karena melihat matahari terbit dan terbenam 16 kali dalam sehari. Dalam bukunya, Al Mansouri menyarankan ketika hendak menunaikan salat di luar angkasa, waktunya disesuaikan dengan waktu salat di Makkah.

Sebelumnya, Pendapat yang sama juga dikemukakan astronot muslim Sheikh Muszapher Shukor asal Kazakhstan. Namun ia memiliki opsi lain, yakni melaksanakan salat sesuai waktu di negara asalnya.

Ketika salat di luar angkasa, Al Mansouri menghadap bumi sebagai kiblatnya. Sedangkan untuk melaksanakan wudhu, jika tidak tersedia air bisa dilakukan secara tayamum dengan pasir atau batu sebagai penggantinya.

 

Baca juga :

Gadis Asal UEA Ini Buat Proyek Gravitasi Buatan untuk Mudahkan Pekerjaan Astronot

 

Menurut keterangan dari NASA, astronot UEA akan kembali pada 3 Oktober 2019 mendatang. Sementara dua koleganya akan kembali pada musim semi tahun depan. “Bendera kita akan pergi, impian kita, semangat kita untuk negara ini,” kata Al Mansouri seperti dilansir dari publikasi Daily Mail, Kamis (26/09/2019). 

Al Mansouri mengaku menjalankan mimpi yang nyaris mustahil dan segera memasukkan namanya di catatan sejarah UEA. Dia adalah satu dari 4.022 orang dari 38 bidang pekerjaan yang mendaftar dalam program astronot pertama yang diluncurkan Mohammed Bin Rashid Space Centre (MBRSC) pada Desember 2017.

Baru dua orang dari jazirah Arab yang pernah ke luar angkasa. Mereka adalah Pangeran Sultan bin Salman Abdulaziz al Saud dari Arab Saudi dan Muhamed Faris dari Suriah. Keduanya menjalani misi luar angkasa pada 1980an.

Penerbangan Al Mansouri disebut sebagai batu loncatan bagi UEA di sektor ilmu luar angkasa. UEA juga sedang menggodok program mengirim orang ke Marks pada 2021. Jika sukses, ini menjadi hadiah untuk HUT ke-50 UEA.

(waf/dbs/okezone)