gomuslim.co.id – Manusia sebagai makhluk paling sempurna dianugerahi mukjizat melalui Nabi Muhammad SAW yakni Alquran sebagai pedoman hidup. Telah termaktub dalam Alquran, segala hal yang ada di langit dan bumi serta berbagai makhluk yang Allah ciptakan termasuk didalamnya adalah binatang yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Selain lebah dengan madunya, kambing dan sapi dengan dagingnya, kuda yang dapat dimanfaatkan sebagai tunggangan, Allah ciptakan Keledai, binatang yang haram dagingnya untuk dimakan namun menjadi banyak sekali hikmah darinya yang Allah titipkan bagi manusia.

 

Manfaat Keledai Bagi Manusia

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya,” (Q.S An Nahl Ayat: 8)

 

 

James E Lindsay dalam buku Daily Life in the Medieval Islamic World seperti yang dilansir dari amazon mengatakan, ada tiga cara bepergian, yakni berjalan kaki, memakai perahu, atau naik hewan tunggangan. Masyarakat di Jazirah Arab dan Afrika Utara hanya mengandalkan tunggangan mereka, yaitu kuda, unta, ataupun keledai.

Sebagian dari mereka yang tak mempunyai tunggangan, terpaksa berjalan kaki melintasi gurun pasir. Bahkan setelah mengenal roda, masyarakat tetap membutuhkan keledai dan kuda untuk menarik roda beserta beban manusia maupun barang bawaan.

 

Keledai dapat dijadikan Terapi

Direktur amal terapi bantuan keledai Caron Whaley mengatakan keledai punya kelebihan tersendiri yaitu mampu menangkap emosi manusia dan mencerminkan kembali apa yang dirasakan, yang disebut dengan biofeedback. Jadi, keledai bisa mengatasi berbagai masalah, mulai dari menguatkan kepercayaan diri anak autis untuk mencoba sesuatu yang baru hingga membantu orang yang mengalami trauma, penyakit, rasa cemas, dan kesulitan emosional.

 

 

“Keledai dapat menangkap sinyal yang diberikan oleh manusia. Mereka dapat melihat bahasa tubuh, perilaku, dan perasaan orang. Anjing tidak bisa melakukan itu. Mereka hewan yang menyenangkan, tapi tidak akan membantu Anda berubah,” ungkap Caron.

Bahkan, Sifat keledai yang tenang juga membuat mereka cocok untuk terapi yang biasanya berlangsung selama sepuluh menit sampai dua jam.

Uniknya, setelah terapi berlangsung, bukan hanya manusia yang merasa lelah, tapi juga si keledai. Menurut Caron, mereka akan berbaring dan langsung tidur selama satu jam, sebelum bisa melanjutkan terapi berikutnya.

 

Haram Daging Keledai Untuk dimakan

Namun perlu diketahui, keledai merupakan hewan peliharaan yang diharamkan dagingnya untuk dikonsumsi. Pengharamannya disebutkan secara jelas dan tegas di dalam hadits dan bukan di dalam Al-Quran.

“Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah melarang kalian memakan daging himar ahli (keledai peliharaan), karena hewan itu najis (kotor)” (HR. Bukhari)

 

 

Selain hadis tersebut, banyak hadis lain yang menguatkan keharaman keledai peliharaan.

“Dari Salamah bin Akwa ra.,“Kami bersama Rasulullah SAW berangkat menuju Khaibar. Kemudian Allah berkenan menaklukkannya bagi kemenangan pasukan muslimin itu. Pada sore hari saat Khaibar telah ditaklukkan, kaum muslimin banyak yang menyalakan api hingga bertanyalah Rasulullah SAW: ‘Apakah api-api ini, untuk apakah kamu sekalian menyalakannya?’ Mereka menjawab: ‘Untuk memasak daging.’ Rasulullah SAW bertanya lagi: ‘Daging apakah itu?’ Mereka menjawab: ‘Daging keledai piaraan.’ Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Tumpahkanlah masakan itu dan pecahkanlah periuknya!” (HR. Muslim)

 

 

Jumhur ulama yang termasuk di dalamnya Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’I, dan Mazhab Hambali sepakat mengatakan bahwa keledai peliharaan termasuk hewan yang haram dimakan.

Ibnu Hazm mengatakan bahwa karena banyak hadis yang menyatakan keharaman keledai peliharaan, sampai 9 sahabat meriwayatkannya, sanadnya sangat kuat dan jelas sejelas matahari. Karena itu, derajatnya mencapai mutawatir.

Sementara, Ibnu Abdil-Barr menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di tengah ulama tentang keharaman keledai peliharaan ini.

 

Allah Memilih Keledai Sebagai Peringatan

Salah satu kisah penuh hikmah yang termaktub dalam Alquran adalah nasehat-nasehat Luqman pada anaknya. Kisah ini tercatat dalam surat ke-31 dan turun di Makkah berisikan 34 ayat bertajuk Surat Luqman al Hakim.

“Sederhanalah kamu dalam berjalan dan turunkan nada suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19)

Diatas adalah salah satu nasehat yang menjadikan keledai sebagai contoh. Keledai memanglah binatang yang dianggap bodoh dan lamban sehingga tak disukai manusia.

Ibnu Asyur dalam kitab at-Tahrir wa at-Tanwir menafsirkan bahwa suara yang paling mungkar adalah suara keledai merupakan alasan yang melatar belakangi perintah untuk merendahkan suara. Karena berteriak sangat mirip dengan suara keledai. Artinya, mengingat suara keledai adalah suara yang paling buruk, dan teriak-teriak ketika berbicara mirip seperti ringkikan keledai, menunjukkan bahwa teriak-teriak termasuk kemungkaran.

 

 

Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Katsir, maksud ayat ini, janganlah berbicara keras dalam hal yang tidak bermanfaat. Karena sejelek-jelek suara adalah suara keledai. Mujahid berkata, “Sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” Jadi siapa yang berbicara dengan suara keras, ia mirip dengan keledai dalam hal mengeraskan suara. Dan suara seperti ini dibenci oleh Allah Ta’ala.

Hal tersebut juga disampaikan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam Kitab Taisir Al Karimir Rahman berkata, “Seandainya mengeraskan suara dianggap ada faedah dan manfaat, tentu tidak dinyatakan secara khusus dengan suara keledai yang sudah diketahui jelek dan menunjukkan kelakuan orang bodoh.”

Sungguh tanda tidak beradabnya seorang muslim jika ia berbicara dengan nada keras di hadapan orang tuanya sendiri, apalagi jika sampai membentak.

 

Keledai Mampu Melihat Setan

Mengenai suara keledai, kita diminta meminta perlindungan pada Allah ketika mendengarnya. Hal ini berbeda dengan suara ayam berkokok. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

“Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan” (HR. Muslim no. 3303 dan Muslim no. 2729).

 

 

Studi laboratorium menunjukkan kuda dan beberapa jenis keledai mampu melihat bentuk yang berbeda dalam cahaya rendah, termasuk malam gelap, tanpa bulan di area hutan.

Dalam jurnal berjudul Shedding Light on Equine Night Vision kuda atau beberapa jenis keledai dapat sangat sensitif dalam melihat perubahan cahaya dengan tingkat intensitas rendah.

Beberapa penelitian lain juga menyebutkan keledai pada masa prasejarah digunakan untuk mendeteksi adanya kebakaran hutan lebih cepat daripada hewan lainnya.

Hal ini membantu manusia zaman dahulu untuk selamat dari kebakaran hutan karena sensor cahaya terutama untuk mendeteksi api pada mata keledai sangat sensitif. Karena setan juga diciptakan dengan nyala api, keledai dapat merasakan keberadaan makhkuk tersebut.

 

 

Sahabat gomuslim, dari seekor keledai kita dapat belajar bahwa Allah menciptakan segala bentuk makhluk di muka bumi dalam keadaan sempurna dan tanpa kesia-siaan. Tak bijak menghakimi keledai sebagai binatang yang bodoh dan lamban, karena di baliknya ia memiliki kemampuan yang dapat membantu kehidupan yang dijalani manusia. Karena itu, sebagai khalifah wajib bagi kita untuk menjaga segala yang ada di Bumi Allah. (nov/dbs)

Wallahu a’lam bishawab

 

Sumber:                                                    

Hitekno.com

Amazon.com

Rumah Fiqih Indonesia

Pdf: Kitab Taisir Al Karimir Rahman

Pdf: Kitab at-Tahrir wa at-Tanwir

Jurnal Aqidah: Konsep Pendidikan Islam Dalam Q.S. Luqman 12-19, Nurhayati Fakultas Ushuluddin, Filsafat & Politik UIN Alauddin Makassar, 2017